Farming vs War: Kapan Harus Memilih? – Halo Sobat Upix! Ini salah satu dilema paling sering terjadi di ranked: kamu lagi farming enak, item hampir jadi… tiba-tiba tim war di Turtle. Atau sebaliknya, kamu ingin ikut war, tapi gold kamu tertinggal jauh.
Pertanyaannya sederhana tapi krusial: kapan harus farming, dan kapan harus war?
Masalahnya, banyak pemain menjawab pertanyaan ini dengan emosi, bukan analisis. Hasilnya? War tidak perlu, farming tidak efisien, dan momentum hilang.
Mari kita bedah dengan lebih tajam.
1. Farming Itu Investasi, War Itu Eksekusi
Farming adalah proses membangun kekuatan.
War adalah cara mengonversi kekuatan itu menjadi keuntungan.
Kalau kamu war tanpa farming cukup, kamu masuk pertarungan dalam kondisi lemah.
Kalau kamu farming terus tanpa pernah war, kamu tidak pernah mengubah keunggulan menjadi objektif.
Kuncinya bukan memilih salah satu secara mutlak, tetapi membaca timing.
2. Indikator Kamu Harus Farming
Ada beberapa kondisi di mana farming lebih masuk akal daripada ikut war:
2.1 Item Belum Jadi (Belum Power Spike)
Jika core kamu belum mencapai item penting (misalnya item kedua marksman atau item burst assassin), memaksakan war sering berakhir kalah.
War tanpa power spike = risiko tinggi, reward rendah.
2.2 Objektif Tidak Ada
Jika Turtle/Lord belum spawn dan tidak ada turret yang bisa ditekan, war kecil sering tidak menghasilkan apa-apa selain trade kill.
Tanya pada diri sendiri:
“Kalau menang war ini, apa yang bisa diambil?”
Jika jawabannya tidak jelas, mungkin lebih baik farming.
2.3 Posisi Wave Tidak Menguntungkan
Kalau minion mendorong ke turret kamu dan kamu tinggalkan demi war kecil, kamu kehilangan gold dan exp gratis.
Farming wave yang aman sering lebih bernilai daripada ikut war 50-50.
3. Indikator Kamu Harus War
Sebaliknya, ada kondisi di mana farming justru menjadi kesalahan.
3.1 Objektif Besar Akan Spawn
Turtle dan Lord bukan opsional. Mereka mengubah tempo permainan.
Kalau kamu tetap farming jungle saat Lord diperebutkan, kamu mungkin unggul gold kecil tapi kalah tekanan besar.
3.2 Lawan Overextend
Kalau musuh terlalu maju dan bisa dipick off, itu momentum gratis.
Farming tidak selalu lebih aman. Kadang kill strategis membuka kontrol map lebih luas.
3.3 Tim Unggul Power Spike
Jika komposisi timmu kuat di early-mid game, terlalu banyak farming justru membuang keunggulan.
Keunggulan harus ditekan, bukan ditunda.
4. Kesalahan Umum: War Tanpa Tujuan
Di ranked, banyak war terjadi karena ego atau bosan.
- Tidak ada objektif.
- Tidak ada keunggulan posisi.
- Tidak ada alasan taktis.
Hanya sekadar “ketemu musuh”.
Ini pola pikir reaktif, bukan strategis.
War ideal selalu punya tujuan:
- Ambil turret
- Ambil Turtle
- Kontrol area Lord
- Tekan inhibitor
Kalau tidak ada konversi, war itu hanya pertukaran statistik.
5. Kesalahan Sebaliknya: Farming Terlalu Lama
Ada juga pemain yang terlalu fokus farming sampai lupa tempo.
Masalahnya:
- Lawan sudah ambil 2 Turtle.
- Outer turret hilang semua.
- Lord sudah spawn.
Tapi kamu masih clear jungle sisi bawah.
Farming tanpa tekanan hanya memperpanjang kekalahan.
Kamu harus jujur menilai:
Apakah farming ini mendekatkan tim ke kemenangan, atau hanya menunda kekalahan?
6. Tempo Game Menentukan Jawaban
Keputusan farming atau war sangat tergantung fase permainan.
Early Game
Prioritas: objektif kecil dan kontrol lane.
War besar tanpa tujuan biasanya tidak efektif.
Mid Game
Power spike mulai terasa.
War di sekitar Turtle/Lord menjadi penting.
Late Game
Satu war bisa menentukan hasil akhir.
Farming kecil sering tidak lagi relevan dibanding positioning dan setup war.
Banyak pemain gagal membaca perubahan tempo ini.
7. Role Juga Mempengaruhi Keputusan
Tidak semua role punya prioritas sama.
- Jungler: harus seimbang antara farming dan kontrol objektif.
- Marksman: butuh farming stabil sebelum jadi mesin damage.
- Roamer: lebih fokus setup war daripada farming.
- Exp laner: bisa memilih split push atau join war tergantung komposisi.
Kalau semua role berpikir seperti jungler, atau semua ingin war seperti roamer, struktur tim runtuh.
8. Pertanyaan Kritis Sebelum Memutuskan
Sebelum memilih farming atau war, biasakan bertanya:
- Apakah ada objektif yang diperebutkan?
- Apakah saya sedang di power spike?
- Apakah posisi wave menguntungkan?
- Apakah tim siap follow up?
- Apa konsekuensi jika kalah war ini?
Keputusan tanpa pertanyaan adalah keputusan impulsif.
9. Solo Queue vs Tim Terkoordinasi
Di tim kompetitif, keputusan biasanya kolektif dan terstruktur.
Di solo queue, sering chaos.
Karena itu, kamu perlu membaca dinamika tim:
- Jika tim sudah commit war, kadang ikut lebih baik daripada farming sendirian.
- Jika tim tidak siap, memaksakan war sendirian hampir pasti salah.
Realitasnya, keputusan ideal kadang harus disesuaikan dengan kondisi nyata tim.
10. Intinya Bukan Farming atau War, Tapi Konversi
Kesalahan terbesar adalah menganggap ini pilihan hitam-putih.
Farming adalah persiapan.
War adalah eksekusi.
Yang menentukan kemenangan adalah kemampuan menghubungkan keduanya.
- Farming → power spike → war → objektif.
- War → kill → turret → kontrol map.
Jika rantai ini terputus, permainan menjadi tidak efisien.
Kesimpulan
Memilih antara farming dan war bukan soal keberanian atau kesabaran semata, tetapi soal membaca tempo, power spike, dan objektif.
Farming tanpa arah hanya memperlambat permainan.
War tanpa tujuan hanya membuang momentum.
Kamu harus belajar melihat lebih dari sekadar musuh di depan mata. Lihat peta, lihat waktu spawn objektif, lihat item yang sudah jadi.
Karena pada akhirnya, pemain yang naik rank bukan yang paling sering war atau paling rajin farming—tetapi yang paling tepat memilih kapan harus melakukan keduanya.